Minggu, 30 Oktober 2016

Tidak Ada Anak Yang Bodoh

      Maukah kita dibilang bodoh oleh orang lain? Tentu saja tidak kan. Begitu juga dengan anak kita. Lalu bagaimana jika dia tidak pandai di pelajaran matematika, IPA atau bahasa Inggris misalnya. Atau nilai-nilai pelajaran di sekolahnya di bawah standar semua. Padahal orangtua sudah mendampingi dalam mengulang pelajaran sekolah di rumah atau bahkan sudah memberikannya les tambahan. Rasa kecewa ataupun khawatir pastinya sudah mampir di dalam hati orangtua. Kenapa ya dengan anakku ini? Kenapa nilai pelajarannya tidak pernah bagus? 
      Nah dalam situasi seperti ini, mental dan pikiran orangtua harus tetap dalam kondisi baik. Artinya, boleh saja kecewa atau khawatir, tetapi jangan terlalu lama. Bukan berarti anak kita bodoh, tetapi mungkin bakat dan kemampuannya bukan pada pelajaran-pelajaran formal di sekolah. Mungkin dia pandai dalam hal seni, ketrampilan atau olahraga. Jadi jika anak kita tidak pandai dalam pelajaran di sekolah, maka orangtua perlu mencari tahu bakat anak di bidang lain. Coba saja ikut sertakan anak pada kegiatan lain di luar sekolah, seperti les alat musik, les nyanyi, les menari, les kuliner, klub olahraga anak-anak atau kegiatan apapun yang positif. 
      Lalu, bagaimana dengan sekolah formalnya? Tetap dilanjutkan tetapi jangan terlalu menekannya. Terus berikan semangat kepada anak agar dia tidak putus asa dalam bersekolah sambil menggali potensi-potensi lain pada anak. Jangan bandingkan nilai prestasi akademik anak dengan teman sekelasnya dulu, tetapi bandingkan prestasi akademik sekarang dengan prestasi akademik sebelumnya, apakah ada peningkatan atau tidak. Ajak guru berdiskusi untuk memberikan teknik atau perlakuan khusus buat anak kita yang memungkinkan dilakukan di sekolah. Mungkin ada pendekatan lain yang dapat dilakukan oleh guru. Bisa juga dengan mengikutkan home schooling pada anak. Intinya daripada memberikan stempel bodoh kepada anak kita, lebih baik kita mencari solusi dari permasalahan kemampuan akademik anak kita karena pada dasarnya yang diinginkan oleh orangtua adalah kebaikan pada diri anak.
      Mengenai bakat anak ini, saya pernah punya pengalaman pribadi saat memberikan les privat kepada seorang anak SMA kelas 3. Jadi, ibunya anak ini sudah tahu kalau anaknya pandai di pelajaran bahasa termasuk bahasa asing, tetapi pada saat penjurusan di sekolah hanya ada jurusan IPA dan IPS. Mengingat pelajaran IPA-nya sangat lemah, akhirnya diputuskan masuk jurusan IPS. Itupun perlu belajar ekstra untuk mencapai nilai standar minimun yang sudah ditetapkan oleh sekolah. Mendekati waktu Ujian Nasional (UN), ibunya memberikan les privat dan sayalah gurunya saat itu. Anaknya sangat kalem, pemalu, komunikasi juga pasif. Mungkin karena dia merasa tidak pandai pada kebanyakan pelajaran di sekolah.
      Sebagai guru privatnya, tentu saja saya harus tetap optimis dan menjaga semangat belajar kepada anak ini agar dia bisa lulus UN. Dia juga menambahkan ibadahnya, dengan rajin berpuasa sunah Senin Kamis dan sholat Tahajud. Di sinilah sisi baiknya, dalam kondisi yang tidak aman dia gantungkan harapannya hanya kepada Allah SWT sambil terus berusaha belajar agar dapat lulus UN. Singkat cerita, sampailah dia kepada harinya Ujian Nasional. Saya sudah memberikan tips-tips dalam mengerjakan soal ujian, memberikan kata kunci-kata kunci dalam mengingat materi pelajaran yang diujikan. Jadi agak cemas juga, tapi tetap mendoakan yang tebaik. Dan alhamdulillah anak ini berhasil dalam Ujian Nasional. Dia dapat melampaui nilai minimum standar kelulusan UN. 
      Aahh .... lega sekali rasanya. Setahun berlalu sang ibu menghubungi saya kembali, memberikan kabar mengenai anaknya. Senang sekali mendengarnya, setelah lulus SMA anak ini melanjutkan pendidikan ke Sekolah Tinggi Bahasa Asing dan telah menunjukkan prestasinya. Nilai-nilai akademiknya sangat baik karena dia telah menemukan kemampuan dan bakatnya, karena dia telah menempuh pendidikan sesuai dengan kemampuan dan bakatnya. Jadi sekali lagi, tidak ada anak yang bodoh. Yang ada adalah anak dengan bakat dan kemampuan yang berbeda karena Allah juga menciptakan manusia berbeda-beda. Banyak orang yang sukses dalam berkesenian, dalam olahraga, dalam usaha kuliner, dalam fotografi dan bidang nonformal lainnya. Pendidikan akademik formal memang penting, tetapi jika nilai yang diperoleh tidak baik, bukan berarti akhir dari segalanya. Carilah potensi-potensi lain yang mungkin masih tersembunyi.

Do the best for our children

*MG*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar