Senin, 31 Oktober 2016

Bahagia Dengan Bersyukur



      Bahagia sesungguhnya adalah rasa senang dan tenang yang ada di dalam hati kita. Semua orang mendambakan hal ini, tetapi tidak semua orang bisa merasakannya. Kadang orang berpikir akan merasa bahagia apabila berlimpah harta. Ada benarnya juga sih karena berlimpahnya harta menunjukkan kalau segala kebutuhan dan keinginan kita bisa terpenuhi. Tapi, apa gunanya harta yang berlimpah jika diri ini tidak dapat menikmatinya karena terbaring lemah tak berdaya menderita suatu penyakit. Apa gunanya harta yang berlimpah jika orang2 mendekati kita hanya karena ingin ikut menikmati harta yang kita punya bukan karena ingin tulus bersahabat dengan kita. Apa gunanya harta yang berlimpah jika saudara dan handai taulan menjauh karena menilai kita terlalu tamak dalam mengejar harta. Jadi, bahagia itu tidak semata-mata muncul karena harta yang berlimpah.
       Bahagia yang hakiki bisa muncul karena rasa syukur kita atas apa yang kita miliki saat ini. Terdengar klise memang, tapi coba saja rasakan. Mungkin saat ini hidup kita terbilang sederhana, tetapi kita memiliki jasmani dan rohani yang sehat, mempunyai keluarga yang harmonis, mempunyai pekerjaan atau usaha kecil yang terus berjalan, dipercaya sama orang, mempunyai banyak teman, disukai banyak orang karena perilaku positif kita. Itu semua patut disyukuri dan dapat menimbulkan rasa bahagia. Memang manusiawi jika kita menginginkan adanya peningkatan dalam hidup, tapi jangan sampai lupa bersyukur dengan nikmat yang telah Tuhan berikan kepada kita. Lihatlah ke atas sebagai motivasi peningkatan diri, tapi jangan lupa melihat ke bawah agar kita mensyukuri segala nikmat dan karunia yang Tuhan berikan kepada kita. Ibarat orang berjalan, sesekali perlu melihat ke bawah agar tidak terjatuh.
       Akhir kata, semoga kita semua selalu mendapatkan kemudahan dalam menjalani hidup ini, mendapatkan jalan keluar dari segala permasalahan yang kita hadapi. Terus berjuang meraih kebahagiaan dengan menyertakan rasa syukur di dalam hati kita.

#Repost

- MGB-
 

Menjadi Diri Sendiri

      Menjadi diri sendiri memang bagus karena kita bertindak sesuai dengan keadaan diri sendiri, tidak dibuat-buat atau berpura-pura. Namun, kita juga mesti dapat menempatkan untuk menjadi diri sendiri ini disaat kita mulai berinteraksi sosial dengan orang lain. Apa-apa yang tidak baik dari diri kita agar dikendalikan untuk menghindari perselisihan dengan orang lain. Ketika kita berinteraksi dengan orang lain, kita juga mesti memperhatikan kondisi dan situasi orang lain dengan tujuan untuk bertenggang rasa.
      Mungkin dari berinteraksi itu kita dapat mengambil pelajaran dari orang lain tentang sikap-sikap yang baik menurut orang kebanyakan. Lalu, bagaimana jika kita bertemu dengan orang yang mau menangnya sendiri. Disitulah kita baru tegas dalam bersikap, tapi bukan berarti harus marah tak terkendali. Kalau saya lebih baik menjauh, berbicara seperlunya saja. Kalau tidak ada hal penting, ya tidak perlu berurusan sama dia. Sekilas tampaknya seperti lemah ya, tapi sebenarnya inilah jalan yang lebih damai buat diri kita sendiri. Dari orang yang tidak mengenakkan pun kita dapat mengambil pelajaran, bahwa sikap-sikap seperti orang itu ternyata menimbulkan rasa tidak suka bahkan kesal pada orang lain. Nah, kita sebisa mungkin jangan bertindak yang sama dengan orang itu.
      Menjadi diri sendiri juga bukan berarti harus kaku tidak mau mengubah sikap atau karakter yang tidak baik pada diri kita. Seiring berjalannya waktu, kita sebagai pribadi akan tahu karakter baik dan tidak baik yang ada pada diri kita. Walaupun sulit merubah kebiasaan, sikap atau karakter, tapi kita harus mulai merubah sedikit demi sedikit jika kita ingin menjadi lebih baik. Tentunya yang merasakan efek dari perubahan baik ini adalah diri kita sendiri dan orang-orang di sekeliling kita. 
      Jadi, sah-sah saja jika kita ingin menjadi diri sendiri, tetapi bukan berarti dapat bertindak semaunya tanpa memperhatikan situasi dan kondisi di sekeliling kita. Buang karakter-karakter tidak baik yang ada pada diri kita demi kebaikan diri sendiri. Kembangkan sikap tenggang rasa atau tepa selira ketika kita berinteraksi dengan sesama. Menjaga jarak dengan orang-orang yang tidak mengenakkan demi kedamaian hati sendiri, karena jika dilawan dengan amarah juga belum tentu situasi menjadi lebih baik. Mari kita kembangkan sikap-sikap baik di keseharian kita. Jadikan sikap-sikap orang lain yang tidak berkenan sebagai contoh kepada diri sendiri agar tidak berlaku yang sama, agar kita tidak samanya dengan orang tersebut.

- MGB-

Minggu, 30 Oktober 2016

Tidak Ada Anak Yang Bodoh

      Maukah kita dibilang bodoh oleh orang lain? Tentu saja tidak kan. Begitu juga dengan anak kita. Lalu bagaimana jika dia tidak pandai di pelajaran matematika, IPA atau bahasa Inggris misalnya. Atau nilai-nilai pelajaran di sekolahnya di bawah standar semua. Padahal orangtua sudah mendampingi dalam mengulang pelajaran sekolah di rumah atau bahkan sudah memberikannya les tambahan. Rasa kecewa ataupun khawatir pastinya sudah mampir di dalam hati orangtua. Kenapa ya dengan anakku ini? Kenapa nilai pelajarannya tidak pernah bagus? 
      Nah dalam situasi seperti ini, mental dan pikiran orangtua harus tetap dalam kondisi baik. Artinya, boleh saja kecewa atau khawatir, tetapi jangan terlalu lama. Bukan berarti anak kita bodoh, tetapi mungkin bakat dan kemampuannya bukan pada pelajaran-pelajaran formal di sekolah. Mungkin dia pandai dalam hal seni, ketrampilan atau olahraga. Jadi jika anak kita tidak pandai dalam pelajaran di sekolah, maka orangtua perlu mencari tahu bakat anak di bidang lain. Coba saja ikut sertakan anak pada kegiatan lain di luar sekolah, seperti les alat musik, les nyanyi, les menari, les kuliner, klub olahraga anak-anak atau kegiatan apapun yang positif. 
      Lalu, bagaimana dengan sekolah formalnya? Tetap dilanjutkan tetapi jangan terlalu menekannya. Terus berikan semangat kepada anak agar dia tidak putus asa dalam bersekolah sambil menggali potensi-potensi lain pada anak. Jangan bandingkan nilai prestasi akademik anak dengan teman sekelasnya dulu, tetapi bandingkan prestasi akademik sekarang dengan prestasi akademik sebelumnya, apakah ada peningkatan atau tidak. Ajak guru berdiskusi untuk memberikan teknik atau perlakuan khusus buat anak kita yang memungkinkan dilakukan di sekolah. Mungkin ada pendekatan lain yang dapat dilakukan oleh guru. Bisa juga dengan mengikutkan home schooling pada anak. Intinya daripada memberikan stempel bodoh kepada anak kita, lebih baik kita mencari solusi dari permasalahan kemampuan akademik anak kita karena pada dasarnya yang diinginkan oleh orangtua adalah kebaikan pada diri anak.
      Mengenai bakat anak ini, saya pernah punya pengalaman pribadi saat memberikan les privat kepada seorang anak SMA kelas 3. Jadi, ibunya anak ini sudah tahu kalau anaknya pandai di pelajaran bahasa termasuk bahasa asing, tetapi pada saat penjurusan di sekolah hanya ada jurusan IPA dan IPS. Mengingat pelajaran IPA-nya sangat lemah, akhirnya diputuskan masuk jurusan IPS. Itupun perlu belajar ekstra untuk mencapai nilai standar minimun yang sudah ditetapkan oleh sekolah. Mendekati waktu Ujian Nasional (UN), ibunya memberikan les privat dan sayalah gurunya saat itu. Anaknya sangat kalem, pemalu, komunikasi juga pasif. Mungkin karena dia merasa tidak pandai pada kebanyakan pelajaran di sekolah.
      Sebagai guru privatnya, tentu saja saya harus tetap optimis dan menjaga semangat belajar kepada anak ini agar dia bisa lulus UN. Dia juga menambahkan ibadahnya, dengan rajin berpuasa sunah Senin Kamis dan sholat Tahajud. Di sinilah sisi baiknya, dalam kondisi yang tidak aman dia gantungkan harapannya hanya kepada Allah SWT sambil terus berusaha belajar agar dapat lulus UN. Singkat cerita, sampailah dia kepada harinya Ujian Nasional. Saya sudah memberikan tips-tips dalam mengerjakan soal ujian, memberikan kata kunci-kata kunci dalam mengingat materi pelajaran yang diujikan. Jadi agak cemas juga, tapi tetap mendoakan yang tebaik. Dan alhamdulillah anak ini berhasil dalam Ujian Nasional. Dia dapat melampaui nilai minimum standar kelulusan UN. 
      Aahh .... lega sekali rasanya. Setahun berlalu sang ibu menghubungi saya kembali, memberikan kabar mengenai anaknya. Senang sekali mendengarnya, setelah lulus SMA anak ini melanjutkan pendidikan ke Sekolah Tinggi Bahasa Asing dan telah menunjukkan prestasinya. Nilai-nilai akademiknya sangat baik karena dia telah menemukan kemampuan dan bakatnya, karena dia telah menempuh pendidikan sesuai dengan kemampuan dan bakatnya. Jadi sekali lagi, tidak ada anak yang bodoh. Yang ada adalah anak dengan bakat dan kemampuan yang berbeda karena Allah juga menciptakan manusia berbeda-beda. Banyak orang yang sukses dalam berkesenian, dalam olahraga, dalam usaha kuliner, dalam fotografi dan bidang nonformal lainnya. Pendidikan akademik formal memang penting, tetapi jika nilai yang diperoleh tidak baik, bukan berarti akhir dari segalanya. Carilah potensi-potensi lain yang mungkin masih tersembunyi.

Do the best for our children

*MG*

Rabu, 26 Oktober 2016

Sukses Ada Ditangan Kita

      Sukses .... ya, siapa yang tidak mau sukses. Tapi, apa sebenarnya sukses itu? Mungkin banyak orang mengaitkan sukses dengan kekayaan harta yang dimiliki. Kita pasti dengan mudah mengatakan seseorang itu sukses jika dia memiliki rumah pribadi yang megah, memiliki mobil mewah atau memiliki usaha pribadi yang maju. Sah-sah saja sih, tapi ukuran sukses bukan hanya diukur dari banyaknya kekayaan harta yang dimiliki. 
      Sukses dapat kita capai di setiap jenjang kehidupan. Seorang anak bayi dapat dikatakan sukses ketika dia sudah dapat tengkurap, duduk, mengucapkan kata pertamanya sampai kepada belajar berjalan. Seorang anak balita dapat dikatakan sukses jika dia sudah dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan ringan sendiri, seperti makan, minum, buang air kecil dan merapihkan kembali mainannya sehabis bermain. Seorang pelajar dapat dikatakan sukses jika dia berhasil menyelesaikan sekolahnya. Orangtua dapat dikatakan sukses jika dapat membesarkan dan mendidik anak-anaknya dengan baik. Seorang karyawan dapat dikatakan sukses jika dia dapat menyelesaikan tanggung jawabnya dengan baik. Seorang pimpinan dapat dikatakan sukses jika dia dapat mengarahkan anak buahnya dengan baik sehingga tercapai tujuan organisasi. Seorang pengajar dapat dikatakan sukses jika peserta pengajarannya benar-benar memahami materi yang diajarkan. Seorang pekerja seni dapat dikatakan sukses jika pertunjukkan seni yang ditampilkannya benar-benar menghibur orang-orang yang menyaksikan. 
      Itulah bentuk sukses di dalam kehidupan. Peningkatan kemampuan dan keahlian kita dari hari ke hari adalah wujud dari kesuksesan yang paling dekat dengan kehidupan kita. Sukses itu sendiri tidak terjadi secara instan tetapi membutuhkan proses yang harus kita jalani. Jadi jika ingin sukses harus mau bergerak, menambah ketrampilan dan keahlian, harus mau belajar. Yang terpenting adalah kemauan kita untuk terus berkembang dan maju. Kembangkan segala potensi diri, lakukan tindakan nyata. Dengan kata lain, kesuksesan diciptakan oleh diri sendiri. Hal-hal lain disekeliling kita hanyalah faktor pendukung kesuksesan.
     Namun, jika kesuksesan sudah ada di tangan kita, jangan lupa untuk bersyukur. Tetap rendah hati  karena semua ini tidak lepas dari kuasa Allah, Sang Penguasa alam semesta beserta isinya. Boleh berusaha keras untuk mencapai kesuksesan atas kekayaan harta, tapi tetap bersyukur atas kesuksesan-kesuksesan kecil yang telah dicapai karena kesuksesan yang hakiki pada dasarnya adalah segala peningkatan kemampuan kita dalam menjalani kehidupan.

- MGB -