Minggu, 06 November 2016

Hati - Hati Dengan Ucapan Kita

      Pernah dengar ya ungkapan "memang lidah tak bertulang". Ya, karena lidah tak bertulang membuat mudah sekali bagi kita untuk mengeluarkan kata-kata yang terkadang disadari atau tidak kata-kata itu menyinggung perasaan orang lain. Memang sih mulut punya kita sendiri, lidah punya kita sendiri, jadi suka-suka saja mau bicara apa. Namun, alangkah lebih baiknya jika kita juga bisa lebih santun dalam berbicara karena jika ucapan kita menyakitkan orang lain hanya bisa dimaafkan tetapi sulit untuk dilupakan. Lama kelamaan orang pun akan menjauhi kita.
       Ketika kita sudah mulai berinteraksi dengan orang lain, disitulah kita sudah perlu menjaga lisan kita. Bercanda sekalipun harus lihat-lihat waktu dan tempat. Bicarapun yang sesuai dengan kapasitas kita, sesuai pengalaman hidup dan pengetahuan yang tepat. Sebaiknya tidak berbicara yang bukan bidang kita. Berbicara yang baik adalah yang ada dasarnya jadi tidak asal bicara. Kadang diperlukan diplomasi supaya yang disampaikan terdengar lebih enak tapi juga jangan jadi merekayasa pembicaraan menutupi keadaan sebenarnya yang terkesan membohongi.
      Berbicara mengenai diri kita sendiri juga perlu berhati-hati karena setiap ucapan yang keluar dari mulut kita dapat menjadi doa bagi diri kita sendiri. Jadi bicara hal-hal yang baik saja. Selain itu, perlu berpikir sebelum berbicara, apakah hal yang akan kita sampaikan ini dapat menimbulkan masalah atau tidak, apakah hal yang akan kita sampaikan sudah tepat adanya atau belum, apakah hal yang akan kita sampaikan akan menyakiti perasaan orang lain atau tidak. Dalam berbicara pun kita harus melihat lawan bicara kita, latar belakangnya dan daya pikirnya. Perlu juga melihat kita sedang berbicara dalam situasi apa dan dimana. Memberitahu kesalahan orang pun mesti pintar dalam penyampaian supaya orang tersebut menyadari kesalahannya. Boleh keras, tapi sebisa mungkin jangan sampai memaki.
      Dengan mempertimbangkan segala hal yang ingin disampaikan sebelum kita berbicara akan membuat situasi menjadi lebih baik. Kalau yang mau kita bicarakan tidak ada manfaatnya, kalau yang mau kita bicarakan hanya omong kosong, kalau yang akan kita sampaikan dapat menimbulkan masalah lebih baik diam. Berbicara diperlukan untuk menjelaskan atau meluruskan sesuatu. Namun, ada saatnya dimana lebih baik kita berhenti menjelaskan sesuatu ketika kita memberitahukan kebenaran kepada orang yang bersikukuh dengan kesalahannya, tidak mau menerima masukan dari orang lain yang melihat kesalahannya. Kalau bertemu yang seperti ini lebih baik diam dan tinggalkan agar tidak melelahkan mulut dan hati kita.
      Jadi, jagalah lisan kita setiap saat. Bicarakan hal-hal yang baik saja. Hindari bicara yang dapat menimbulkan masalah. Perlu diolah sedikit bicara kita untuk dapat memberitahukan suatu kesalahan agar maksud yang ingin kita sampaikan dapat dipahami. Ingatlah peribahasa mulutmu harimau mu artinya mulut kita dapat membahayakan atau bahkan menyakiti diri kita sendiri.


Salam Santun Selalu
MGB

Contact me: mutiaragemilangblog@gmail.com

Selasa, 01 November 2016

Habiskan Makananmu

      Mungkin kita pernah melihat makanan yang tersisa dan terkadang masih cukup banyak yang pada akhirnya akan dibuang. Atau mungkin kita sendiri yang seperti itu. Sayang sekali sebenarnya. Ya bisa saja sih kita bilang perutnya sudah kenyang, tidak sanggup lagi untuk menghabiskan. Tapi, benarkah kita tidak menghabiskan karena perut sudah kenyang atau hanya karena kebiasaan makan dari masih anak-anak yang selalu tidak habis. Apapun itu, selalu menyisakan makanan yang telah kita ambil yang pada akhirnya akan terbuang merupakan tindakan yang kurang baik. Makanan jadi mubazir, masih banyak orang yang sulit sekali mendapatkan makanan atau bahkan memakan makanan yang kurang layak.
      Lalu, bagaimana caranya agar makanan yang sudah kita ambil atau kita pesan dapat habis semua. Buat orang yang porsi makannya sedikit sebaiknya pesan makanan dengan porsi biasa saja atau jika memungkinkan agak kurangi sedikit porsinya. Nah, kalau kita sedang mencoba menu baru juga ambil atau pesan sedikit dulu. Kalau cocok dan merasa kurang bisa tambah atau makan lagi lain waktu. Jangan biasakan lapar mata, melihat makanan mau semua tetapi tidak mengukur kapasitas perut kita. Cukup banyak juga yang tidak dapat menghabiskan makanannya karena lapar mata. Selain itu, biasakan kepada anak-anak untuk selalu menghabiskan makanannya. Ambil makanan dalam porsi yang wajar. Sama seperti orang dewasa dalam mencoba makanan baru, ambil dalam porsi yang sedikit dulu, kalau sampai tidak habis paling tidak hanya sedikit. Jika sudah terbiasa sejak kecil, maka ketika sudah besarpun akan selalu menghabiskan makanan yang sudah diambil atau dipesan.
      Dalam perjamuan resmi memang ada kalanya makanan yang sudah diambil di piring akan disisakan sedikit, tapi ya hanya sedikit. Tidak jarang ditemukan di tempat makan adanya makanan yang bersisa agak banyak, mungkin masih setengah porsi. Nah, hal seperti ini sebaiknya kita hindari. Bagaimana kalau kita memang tidak suka dengan makanannya tetapi harus tetap mengambil demi menghormati orang yang menjamu kita. Jika seperti itu juga ambil sedikit saja makanannya. Intinya sebisa mungkin tidak membuang makanan atau kalaupun terpaksa dibuang juga hanya sedikit. 
      Kenapa sih meributkan soal makanan yang terbuang? Karena tidak semua orang bisa makan dengan layak. Masih banyak orang-orang yang ingin makan seperti kita tetapi tidak bisa. Makanan yang kita buang akan berarti buat orang-orang yang sulit untuk mendapatkan makanan layak. Tidak membuang makanan juga merupakan cara menghargai rezeki yang Allah berikan berupa makanan. Jadi, hindari membuang makanan. Biasakan menghabiskan makanan. Makanlah sesuai dengan kapasitas perut kita.



-MGB-

Contact me: mutiaragemilangblog@gmail.com

Tepat Pada Waktunya



       Setiap kita pasti memiliki keinginan, cita-cita atau harapan dalam kehidupan. Tentunya mengarah kepada kebaikan hidup. Namun, itu semua belum tentu bisa terpenuhi dalam sekejap. Ada proses yang harus dijalani. Bukan hanya sekedar niat, tapi harus disertai tindakan nyata, kerja keras, kesabaran dan keuletan untuk menuju cita-cita tersebut. Satu hal yang tidak boleh kita lupakan adalah berdoa kepada Tuhan, memohon untuk dibukakan jalan, diberikan kemudahan dan diarahkan kepada cita-cita kita. Kita sebagai mahluk ciptaannya harus meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi pada hidup kita adalah atas seizin-Nya. Jadi iringilah kerja keras kita meraih cita-cita dengan doa tulus kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
       Tuhan pastinya tahu apa-apa yang terbaik bagi mahluk ciptaan-Nya, termasuk kita manusia. Ketika kita berdoa agar keinginan, cita-cita atau harapan kita dapat tercapai, Dia tidak serta merta akan mengabulkannya saat itu. Dia akan melihat kesanggupan kita, kepantasan kita. Kadang Dia membelokkan kita ke arah yang lain dulu untuk memberikan kita pelajaran, untuk membuka pikiran kita, untuk menyiapkan hati dan pikiran kita atau untuk menempa kita. Tidak sedikit orang yang mengalami jatuh bangun sebelum tercapai cita-cita mereka. Tidak sedikit juga orang yang memulai dari bawah, sedikit demi sedikit terus menanjak, memulai langkah setapak demi setapak sampai akhirnya bertemu dengan cita-citanya. 
      Nah, bisa juga Tuhan mengabulkan keinginan kita ini dalam bentuk yang lain, yang lebih baik dan maslahat untuk kita. Hal ini saya alami sendiri. Ketika saya menginginkan sesuatu sering sekali tidak tercapai pada saat itu. Padahal sudah berusaha untuk mencapainya. Akhirnya saya alihkan keinginan saya kepada hal yang lain dulu. Tapi seiring berjalannya waktu, Tuhan mengarahkan langkah saya menuju hal yang saya inginkan, bisa dalam hal yang sama persis atau dalam bentuk yang lebih baik buat saya. Rupanya Tuhan sengaja mengarahkan saya ke hal yang lain dulu agar saya lebih siap dan lebih mampu saat menerima hal yang saya inginkan. Inilah yang dikatakan tepat pada waktunya.
         Lalu, bagaimana jika keinginan atau cita-cita kita ini tidak pernah tercapai padahal segala upaya sudah kita lakuan. Tentunya bukan berarti Tuhan tidak peduli sama kita atau tidak mengabulkan doa kita, tetapi Dia melihat jika keinginan kita itu tercapai ada hal tidak baik yang akan terjadi sama kita karena sesuatu yang baik menurut kita belum tentu baik menurut Tuhan, pun sebaliknya yang baik menurut Tuhan mungkin kita rasakan kurang baik bagi kita. Ini pun pernah terjadi dalam hidup saya. Pernah suatu kali saya mengikuti tes lamaran kerja melalui perusahaan jasa pencari calon-calon karyawan. Saat itu, saya tidak bermaksud melamar melalui perusahaan tersebut, tetapi rupanya lamaran online saya diterima oleh perusahaan tersebut.
      Singkat cerita akhirnya perusahaan penyeleksi saya memutuskan saya lulus seleksi dan diterima kerja. Sebagai orang yang masih menganggur dan ingin sekali bekerja tentu saja merasa senang mendengar keputusan itu. Namun, tidak sampai 24 jam keputusan itu berubah. Perusahaan tersebut berencana membatalkan keputusannya untuk menerima saya bekerja. Setelah saya tanyakan alasannya, ternyata tidak ada kecocokan harga jasa yang harus dibayar oleh perusahaan yang mau menerima saya bekerja dengan perusahaan jasa pencari calon-calon karyawan yang mempertemukan kami. Merasa saya bukan member dari perusahaan jasa tersebut, saya langsung mengajukan diri menjadi karyawan atas diri saya sendiri jika memang pihak perusahaan yang mau mempekerjakan saya merasa cocok dengan kualifikasi saya.
       Negosiasi pun akhirnya berhasil dan dua minggu setelah itu saya mulai bekerja di perusahaan tersebut. Tak disangka, ternyata situasi dan kondisi lingkungan perusahaan tersebut sangat-sangat menegangkan. Pimpinan yang temperamen dan sering mengeluarkan kata-kata kasar ketika karyawan melakukan kesalahan. Buat saya yang saat itu masih terbilang sedikit pengalaman kerja dan tidak kuat mental menghadapi situasi seperti ini membuat nyali menurun drastis. Tidak ada lagi keinginan untuk bekerja. Tiba-tiba saya sadar, mungkin memang seharusnya saya tidak masuk bekerja di perusahaan ini. Saya juga sadar telah melangkahi atau "main belakang" dari perusahaan jasa pencari calon-calon karyawan yang telah menghubungkan saya dengan perusahaan ini. Aahh sebenarnya Tuhan sudah memberikan tanda-tanda ketidakbaikan yang akan menghampiri saya dengan keputusan yang sempat berubah, tapi saya sebagai hamba Nya yang ngeyel tidak terima dengan hal itu. Malah memaksakan situasi dengan cara-cara yang tidak baik. Sejak kejadian itu, saya lebih bisa terima apapun yang terjadi dalam hidup ini sambil terus melakukan hal-hal positif. Saya jadi lebih bisa berbaik sangka dengan segala hal yang terjadi dalam hidup.
      Akhir kata, raihlah cita-cita atau keinginan kita tindakan nyata, kerja keras, kesabaran dan keuletan. Iringi dengan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar terbuka jalan menuju cita-cita tersebut. Namun, jika keinginan atau cita-cita kita tidak juga tercapai, tetaplah berbaik sangka kepada Tuhan. Mungkin ada hal tidak baik yang tersembunyi dari kita tetapi diketahui oleh Tuhan, sehingga Dia tidak meluluskan cita-cita kita tersebut.

#Repost

-MGB-